Aku, Selayang Pandang

aku

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu

Berbicara tentang aku, aku adalah aku yang dilahirkan Jumat pagi  tepat 33 tahun setelah sinyal radio faximile dikirimkan melintasi benua untuk pertama kalinya. Gerhana bulan dimalam hari menemani perjuangan Ibuku tercinta melahirkan ku kedunia….doa dan harapan kemudian ayah dan bunda titipkan pada putra pertama yang kemudian juga turut ditakdirkan menjadi putra terakhir mereka. Sebaris kalimat nama yang menjadi doa mereka kemudian disematkan pada diriku.

Ismail, nama NabiAllah Ismail, AS menjadi pilihan kata pertama. Harapan agar menjadi seorang anak yang sabar sekaligus tegas seperti Ismail, AS menjadi doa dalam kata pertama. Ismail pun tak lain adalah nama dari kakek, ayah dari ayah yang bekerja sebagai mantri di perkampungan perkebunan negara di Batang Toru, Tapanuli Selatan. Pemberian nama kakek bukan tanpa maksud, beliau adalah orang yang terkenal akan keikhlasannya, mengobati pasiennya tanpa rasa pamrih, tanpa pandang bulu tanpa mengenal kasta, saudara rekan kerja, semua sama dimata beliau…….mau yang bayar, mau yang datang bawa ayam, mau yang tangan hampa tak jadi urusan bagi tangan terampilnya mendeteksi dan memberikan terapi kesehatan bagi mereka. Ikhlas, peduli, berbahagia saat orang lain bahagia….itulah sebuah nilai yang selalu ditanamkan kakek Ismail Siregar pada anak anaknya

Ra- diambil dari awal kata bulan Rajab, bulan kelahiran dalam penanggalan islam. Bulan ketujuh dalam tahun hijriah, satu diantara empat bulan haram, bulan yang dimuliakan, bulan yang tidak diperkenankan ada perang didalamnya. Awalnya Ibunda berencana mengambil kata Mar sebagai awalan kata namun urung dan Ra dari Rajab menjadi pilihannya. Kata “Ra” kemudian digabungkan dengan “dian” yang bermakna cahaya. Maka doa yang terpanjatkan adalah menjadi cahaya dibulan rajab, atau seperti cahayanya bulan Rajab. dan terakhir kata “syah” yang sampai sekarang Ibunda hanya berkata “biar bagus aja ada syahnya”.   yaaa itulah jawaban sederhana ibunda, anggaplah beliau berdoa agar saya jadi orang yang sederhana, karena sederhana akan mengindahkan dan menentramkan seperti kata “syah” diakhir nama yang menjadi sebuah kata yang mengindahkan dan mengunci nama dengan sederhana.

Siregar, Marga dari keluarga ayah yang disematkan, Seperti “Syah” yang juga sering menjadi bagian nama pria minang.   agar aku tak pernah lupa akan kampung halaman, agar aku tak pernah lupa ajaran dan didikan orang tua, agar kacang tak pernah lupa akan kulitnya…

(klik gambar untuk kisah selanjutanya)

ortu

Tiada Terbalaskan

saya bangau

Aku dan Fikiranku

mti

Makan Bangku Sekolahan

makkah

Waktu Adalah Amal

akrab

Kata Sahabat

Ismail Radiansyah Siregar

        Ismail Radiansyah

         mrendut@yahoo.com

       ismail.radiansyah@gmail.com

     @mrendut

        Ismail Radiansyah Siregar

12 pemikiran pada “Aku, Selayang Pandang

  1. Aih…. ada meteor jatuh dari langit. Kok ga ada catatan tsunami akhir-akhir ini ya?? he..he…
    Apa kabar bos Mail…?

  2. GEndutzzzzzzzzzzzzz……

    awas air lautnya tar malah nguap gara-gara kamu loncat-loncat kayak gituh…

    kembangin terus yah tulisannya…

    request dung: buat ttulisan tentang EDELWEIS…

    yah…yah

    semangat terus

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s