Makan Bangku Sekolahan

 

mti

Dengan Ilmu hidup jadi mudah

Dengan Seni hidup jadi indah

Dengan Amal hidup jadi berkah

Dengan Agama hidup jadi terarah

(Buya HAMKA)

Pendidikan adalah warisan terbesar dari kedua orang tua. Kedua orang tua berpesan hanya ilmu, pendidikan dan agamalah yang menjadi warisan, karena dengan itu kau bisa penuhi hidup mu sendiri, harta hanya akan membebanimu bukan menghidupimu.

Yayasan Istiqamah Bandung

di yayasan ini lah aku menghabiskan sepuluh tahun pendidikan ku sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama. Alasan utamanya sederhana, bagi ibu pendidikan agama adalah no satu, maka pendidikan dasar harus dipenuhi di lingkungan yang agamis. Kenapa bukan sekolah lain alasannya  Masjid Istiqamakah hanya berjarak seratus meter saja dari kantor ibu di gedung sate Bandung. Bagi saya awalnya alasannya lebih sederhana, ada sepetak taman bermain disana…hahaha

 

maka masuklah Radi kecil di TK Istiqamah, ada satu hal menarik yang terjadi disini. Kalau ada dua anak bertengkar, maka guru akan mendudukkan ku ditengah anak yang berantem itu dan selesai sudah, kedamaian pun hadir disana,, hahaha. Saat di TK, Papah melihat guru guru tidak pernah mengawasi dan menuntunku, seakan akan aku dibiarkan jalan sendiri tanpa bimbingan yang berarti. Sebagai seorang ayah, naluri kasih sayangnya langsung keluar. sebentuk protes kemudian ia layangkan melalui mamah, coba lihat si radi ngak pernah diurus, coba tanya sana kenapa?. Dengan sabar mamah kemudian bertanya langsung ke sekolah ihwal pola pendidikan yang tebang pilih ini. Satu jawaban yang datang justru kemudian membuat merka bangga.” Bu, kalau Radi memang bisa mandiri ga seperti anak anak yang lain, makanya kami tidak terlalu membimbingnya, tidak seperti anak anak lain yang harus penuh perhatian”. Pendidikan TK hanya ku jalanai satu tahun saja, karena kemudian ponakan mamah datang dan memaksa agar si Radi kecil langsung masuk SD saja tidak usah lama lama di TK, umur adalah modal begitu dia bilang.

Maka singkat cerita masuklah aku ke SD di tempat yang sama, Istiqamah, nama Ismail Radiansyah Siregar kini terdaftar di SD, absen terakhir di kelas satu B. Ya… terakhir karena saat itu aku hanya anak bawang, kalau naik ya syukur kalau ga naik ya biarkan mengulang kembali tahun depan. Hasilnya, Alhamdulillah saya bisa mengikuti dan lanjut naik kelas. Kisah sekolah SD punya satu nilai penting dalam hidupku. Sebagai anak paling muda saat itu aku susah bergaul dengan teman teman lainnya. Gejala ini ditangkap oleh wali kelasku di kelas tiga, bapak Sundahadi,  Sejurus taktik  kemudian dijalankannya, beliau kemudian mencari apa keunggulanku dibanding yang lain, ternyata setiap pulang sekolah mamah menambah porsi agama ku dengan cara memasukkan ku di TPA di masjid yang sama. Pendidikan agama ini tentu saja membawa hasil, setidaknya bacaan arabku lebih dari rekan rekan yang lain. kelebihan inilah yang kemudian ditangkap oleh beliau dan mengangkatku sebagai asistennya dalam pelajaran membaca Iqra. alhamdulillah sedikit demi sedikit aku mulai mendapatkan cara untuk berteman dan bergaul dengan baik, Jazakallahukhairan katsiran.

 

Setamat SD, kedua orang tua dirundung kebimbangan, antara melanjutakan pendidikan di SMP Istiqamah atau masuk ke sekolah negri. Walau masih angkatan ketiga sekolah swata tetap saja akan menuntut pengeluaran lebih, dan pamor sekolah negri tentu lebih tinggi, dan Alhamdulillah nilai ku cukup untuk masuk ke empat besar sekolah negri pavorit di Bandung. Bapak Irianto kepala sekolah SMP Istiqamah kala itu berpesan pada ibunda, ” bu kalau ibu mendaftar di SMP Istiqamah, sebaiknya ibu tidak usah mendaftar ke sekolah negri, dan sebaliknya jika ibu mau mendaftar di sekolah negri, tidak usah daftar disini, kasihan kalau sampai diterima dua duanya maka akan ada satu quota yang terbuang percuma. Keputusanpun diambil, sekolah dasar saja dirasa belum cukup untuk pendidikan agama, maka pendidikan SMP kembali saya lanjutkan di Istiqamah. Rupanya memang saya beristiqamah mengenyam pendidikan di Istiqamah.

smp

Masa SMP adalah masa permulaan remaja, saat ini seorang anak mulai memutuskan akan menjadi apa dia kelak. Berbagai potensi mulai digali dan disah pada usia ini. Keputusan menyekolahkan ku ditempat ini kemudian menjadi salah satu modal terbesar dalam hidupku kelak. Sebagai sekolah baru saat itu satu angkatan hanya ada satu kelas saja, dan satu kelas hanya berisi 30 orang siswa. Maka, jika dewasa ini orang menggembar gemborkan masalah pendidikan kompetensi, Istiqamah telah melakukannya sejak dulu. Dengan jumlah siswa yang sedikit, perhatian guru pada tiap orang anak menjadi sangat optimal. Perkembangan siswa didik diamati dan dikembangkan satu persatu sesuai dengan potensi dan bakatnya. jangankan kenal, dari suara langkah kaki saja guru dapat mengetahui siapa yang sedang berjalan dibelakangnya…inilah pendidikan ekslusif yang saya terima. Terima kasih guru guru ku tercinta.

Petualangan pendidikan kupun dilanjutkan di SMA Negeri 2 Bandung di daerah Cihampelas. Sekolah nergeri dengan lahan terluas di kota Bandung. Ya kali ini keluarga memutuskan bahwa aku telah siap masuk ke lingkungan yang lebih heterogen, tujuannya aadalah gar lebih mengenal kehidupan yang sebenarnya, walaupun negri SMA 2 Bandung adalah SMA negri percontohan di bidang pendidikan agama. Masuk kelingkungan yang lebih heterogen membuatku harus beradaptasi. Kesepakatan kami para alumni SMP Istiqamah adalah di SMA nanti kami harus masuk organisasi keagamaan, kami sadar lingkungan akan sangat mungkin mempengaruhi kami, maka kami harus mendekatkan diri di lingkungan yang baik. Di SMA ini panggilanku berganti, mulai saat ini Ismail menjadi panggilan akrabku di sekolah.

Menutup pendidikan sekolah menengah aku menemukan sebuah prinsip. Saat itu adalah waktunya ujian nasional. Sebuah batas nilai telah ditentukan sebagai batas bawah jika ingin lulus dari sekolah. batas ini seakan menjadi momok tersendiri, kekhawatiran yang berlebihan kemudian membuat aku mulai tidak konsentrasi pada pelajaran. Sampai pada hari terakhir pelajaran yang paling ditakuti, Matematika. Setengah jam terakhir sebelum lembar jawaban dikumpulkan, kertas contekan mulai berjalan dari satu anak ke anak lainnya dan sampai ketanganku. kegamangan luar biasa kemudian melanda, apakah aku kan lulus dengan cara licik ? hampir beberpa menit kupegang erat kertas itu tanpa melakukan apapun, lalu kemudian aku pun sadar, sesempit apapun, kejujuran harus diutamakan, kalau memang aku tidak lulus hari ini biarlah itu terjadi, namun aku tak sudi lulus dengan kebohongan, maka kertas itu kulempar kebelakang. dan Alhamdulillah Allah menakdirkanku lulus walau dengan nilai seadanya.

Selesai dengan pendidikan menengah, kedua orang tua memaksa aku untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, walau aku sadar kalau biaya sudah sangat tipis. gagal di SPMB, membuatku harus menutup impian sekolah di kampus negri kebanggaan kota Bandung. STT Telkom jurusan D3 Teknik Telekomunikasi adalah bangku pendidikan yang harus kumakan. Sebagai seorang yang tidak suka fisika, jurusan elektro tentu saja membuatku mual. pelajaran demi pelajaran seakan membebani hidupku, ingin rasanya aku berganti jurusan, itulah salah satu alasan kenapa aku mencoba peruntungan SPMB di tahun kedua dengan hasil yang sama juga. Dunia elektro nampaknya memang jalan hidupku. Seorang kawan di kampus sebelah kemudian mulai membantu, Luky rahmawan namanya. seorang teman yang kukenal di Karisma ITB. banyak wawasan yang kudapat tentang elektro dari sahabat ku yang satu ini. Ismail kemudian mulai menikmati hidup sebagai seorang mahasiswa teknik elektro telekomunikasi. Di akhir masa studi kemudian aku bergabung di laboratorium mikroprosessor dan antarmuka, kecintaan pada dunia elektropun semakin kurasakan. Hari itu aku ikhlas, aku cinta elektro. aku sadar pada satu hal :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS.Al-Baqarah: 216)
Sebuah ayat yang kemudian menyadarkanku dan kuresapi betul maknanya saat itu, dan Alhamdulillah aku lulus tepat waktu dengan nilai yang tidak mengecewakan.
wisuda2
Pendidikan ku di level D3 belum mebuat orang tua merasa yakin untuk melepasku bekerja. Jalur extensi kemudian menjadi makananku berikutnya. untuk pendidikan ditahap ini papah terpaksa merelakan sebidang tanah, yang merupakan satu satunya peninggalan orang tuanya di kampung. Dari uang itu kemudian dia membiayai sekolahku dan membeli sebuah laptop sebagai modalku belajar. Sejak D3 Mamah pernah bertanya, radi kok kamu ga pernah minta duit buat beli buku? Aku yang sadar akan ketrerbatasan finansial orang tua, enggan membebani mereka lebih dari yang mereka mampu, buku buku senior dan sahabatku menjadi tumpuan hidupku selama belajar, dan alhamdulillah mereka sangat baik dengan memberikan pinjaman bukunya, terimakasih sahabat.
Selepas sarjanakedua orang tua kemudian menyerahkan kemandirian kepadaku. mereka melepasku untuk mengadu nasip bekerja di ibu kota Jakarta. Satu pesan dari orang tua, kami tidak butuh uang gajimu, tabung dan biayai pendidikan S2 mu. itulah kebanggaan kami dan kebahagiaan kami selanjutnya. Sebuah pemikiran yang sangat luar biasa dari kedua orang tua yang bahkan tidak mengenal istilah SKS dan kata kuliah. Impian mengenyam pendidikan master kemudian kutanamkan erat dalam benak dan pikiranku, sampai satu hari aku bertemu sahabat lama di laboratorium mikroprosessor, Yatna Supriyatna atau lebih akrab kupanggil cuiy. keinginan mengenyam pendidikan yang lebih ternyata juga menjadi cita citanya. Maka kemudian kami berjuang sekuat tenaga mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membiayai sekolah kami. 14 juta uang semester plus 10 juta uang pembangunan adalah harga yang harus kami bayar di semester satu. Gaji yang saat itu hanya 3 juta saja sempat membuatku harus makan sekali sehari di warung tegal dengan lauk maksimal telur dadar. Cita cita dan perjuangan ini kemudian berbuah manis, kami diterima di program Magister Teknologi Informasi, Universitas Indonesia.  24 juta rupiah kontan harus kubayar saat itu juga sementara uang tabungan hanya setengahnya. Keinginan yang kuat membuatku tidak menyerah, aku tidak boleh berhenti disini, Hafidz Efendi, sahabatku di Karisma kemudian menjadi penolongku, beliau menutup kekurangan biaya pembayaran, uangnya kupinjam dengan menjanjikan bonus akhir tahun yang sebetulnya bisa saja tidak ada, dan resiko itu dia maklumi….terima kasi brader…..
mti kelas C
 keputusanku melanjutkan pendidikan S2 bukan mulus begitu saja. beberpa teman mempertanyakan keputusanku, buat apa aku harus memaksakan diri, lebih baik menikmati gaji untuk meningkatkan kualitas hidup. Saat itu dengan kebutuhan biaya kuliah bahkan kehidupanku lebih sempit dari sewaktu masih di Bandung. namun dukungan orang tua menjadi modal utama, Aku harus S2 dan itu adalah sekarang.

2 pemikiran pada “Makan Bangku Sekolahan

  1. Radi… dulu pa hadi jadikan kamu tutor sebaya hanya untuk menjadikanmu bisa bersikap lebih dewasa, tidak manja, dan mau bergaul.
    Jika hal itu menjadi kesan buat kamu itu sangat membanggakan bagi pa hadi.

  2. Sebuah kehormatan, Pak Hadi sempat baca coretan kecil ini, terima kasih pak, Jasa Guru guru semua tidak akan pernah bisa saya balas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s