Tiada Terbalaskan

 

ortuMereka yang tiada terbalaskan. Jasa, kasih sayang, perhatian, cinta, perlindungan…..

Ayah dan Ibu…..orang yang paling mengenal kita, yang bersusah payah tanpa pamrih membesarkan melindungi, mendidik kita, tiada perduli saat senggang maupun sempit. Keringatnya, tiada terhitung lagi banyaknya, kesabarannya tiada terduga tingginya, kasih sayangnya tiada terkira dalamnya, walau saat kita patuh maupun membandel….

Alinafiah Siregar, Ayah atau biasa saya panggil papah. Papah lahir disebuah desa di tapanuli selatan, Batang Toru. Dibesarkan dikeluarga Muhammadiyah membuatnya tidak neko neko dalam hal agama. Agama adalah patokan dan landasan utama dalam menjalani hidup baginya. Agama adalah kepribadian dan jati diri, hidup boleh susah, tenaga boleh habis tapi bukan berarti  bertindak diluar batas yang dibenarkan menjadi sesuatu yang boleh dilakukan.

papah

Sejak kecil, papah dididik untuk peduli pada sesama, Ayahnya yang seorang mantri mengajarkan itu betul betul pada dirinya. Setiap hari kakek benerja tanpa pandang bulu, siapa saja yang datang berobat akan dilanyaninya sepenuh hati, tak peduli dia ada bayaran ataupun tidak. Kepedulian pada sesama ini kemudian menjadi nilai yang melekat erat dikeluarga. Saat kita peduli pada orang lain maka orang lain akan peduli pada kita. saat kita melonggarkan kesempitan orang lain maka kesempitan kitapun kan dilonggarkan bukan hanya oleh orang lain tapi sejatinya oleh Allah Sang pencipta.

Asam garam kehidupan telah dijalani oleh papaah. semasa remaja beliau bersekolah di Siantar. beliau dititipkan pada Ujing ( adik ibu) yang bersuamikan seorang tentara. Kehidupan sebagai anak kolongpun menjadi bagian dari hidupnya di siantar. Selepas sekolah, keterbatasan biaya memaksa papah merantau keluar dari tanah kelahirannya. Tujuan pertamanya adalaha bagan siapi-api, menumpang hidup di rumah abang tertuanya. Di tempat ini semua pekerjaan digelutinya sampai pekerjaan sebagai anak kapalpun dilakoninya. Sadar akan kehidupan yang tak kunjung membaik, beliau kemudian memutuskan untuk kembali hijrah ke ibu kota. Di tempat ini beliau mempelajari sesuatu tentang hidup, ilmu pengetahuan dan keterampilan adalah modal besar untuk menghidupi diri. Dengan keterampilan maka kita tak perlu meminta dan menggantungkan hidup pada orang lain, ilmu itu yang akan menghidupi kita. Prinsip ini yang kemudian dibawa untuk mendidik saya kelak. Ayah berpesan bahwa dia tidak akan mewariskan harta dan kekayaan tapi dia akan mewariskan dua hal satu ilmu untuk menghidupi dunia dan dua agama untuk menghidupi akhirat.  Dengan prinsip ini kemudian papah berusaha keras untuk mendorong saya menjadi seorang sarjana, walau hidup morat marit, sekolah tidak boleh berhenti, itu pesannya.

Darliana, Ibu atau biasa saya panggil mamah. Mamah lahir disebuah desa kecil Batibuh, Padang Panjang Sumatera Barat. Besar sebagai wanita minang membuat agama lekat dalam kehidupannya. dalam prinsip orang minang, Adat bersandi syara, sayara bersandi kitabullah. Adat itu dasarnya syariat, dan syariat itu dasarnya Al-Quran.

mamah

Lahir dikeluarga miskin, membuat mamah harus diasuh oleh bibinya. Kehidupan bibinya yang serba glamor ternyata tidak serta merta membuatnya menjadi royal dan membanggakan diri. Selepas kehidupan kecilnya ayahnya memaksa untuk melanjutkan sekolah menengah ke kota padang. Biarpun orang tua mencibir, keputusan melanjutkan pendidikan tidak bisa ditawar bagi sang kakek. “buat apa sekolah tinggi tinggi, nanti juga kedapur” begitu orang kampung bersuara, tapi toh kebulatan tekad kakek yang kemudian membawa mamah tetap bersekolah di padang, menumpang di rumah kakak tertuanya. Kehidupan sempit mewarnai kehidupannya di kota padang, delapan orang anak kakak turut menjadi tanggung jawabnya. Maka kehidupan membesarkan dan mendidik anak telah ditempa sejak ia remaja.

Ditakdirkan melanjutkan pendidikan di akademi Pos di bandung, membuka wawasan baru si gadis minang yang biasa hidup di kampung. Terbukti pendidikan telah membawanya dari kehidupan keluarga misin di kampung halaman ke kota besar Bandung, sebuah kota yang hanya pernah dia lihat di atlas dan perlajaran IPS. Bosca, tempat peneropongan bintang di Lembang adalah satu satunya yang iya tau. Mamah memang sangat suka pelajaran ilmu alam sejak kecil.

Kehidupannya di Bandung rupanya bukan tanpa ujian. Sebuah kejadian memaksanya meninggalkan akademi. Walaupun harus meninggalkan akademi dan menghapus impian jabatan pimpinan di POS, kantor ini tetap menerimanya bekerja dengan hanya mengakui ijazah SMP-saat itu padahal mamah mengantongi ajasah SMA. Walau pahit namun ternyata Allah berkata lain, keberangkatan mamah ke Bandung tidaklah berakhir bagi dirinya sendiri, delapan orang anak kakak satu persatu melanjutkan sekolahnya di Bandung dan berbuah manis.

Saling tebuka, kejujuran, kepedulian, mengutamakan pendidikan dan hidup di jalan agama adalah nilai yang ditanamkan dalam keluarga….

Allahummagfirli waliwalidaia warhamhuma kama Rabbayani sagira

ya Allah ampunilah aku, ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil.

 

Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s