Kisah Batu

Pernah kulihat batu besar di tengah sungai. Kuat kokoh tak hanyut diterpa bandang. Setiap pagi beberapa anak datang dan mendekat pada batu itu. Kadang mereka naik keatas batu dan meloncat kegirangan menceburkan diri kedalam sungai. Atau sekedar berlari berkeliling mencari teman yang bersembunyi dibalik bongkahannya yang besar. Kulihat beberapa ikan kecil datang sekedar berlindung dari arus lalu datang pula ikan yang lebih besar kesana untuk mencari makanan.

Sepekan dua pekan kemudian datanglah seorang bapak setengah baya dengan palu dan pahat tergenggam ditangannya yang mulai keriput. Dipecahnya batu besar itu menjadi beberapa bongkahan kecil. Aku pun berkata tamat riwayatmu batu besar, dulu air tak bisa mengahanyutkan mu tapi tunggu saja beberapa pekan lagi kau jadi bongkahan batu kecil yang tidak berguna. Tamatlah riwayatmu kau tak lagi berharga. Kau tak akan lagi mendengar suara tawa mereka yang bermain atau melihat perburuan ikan disekitarmu.

Tak lama dugaanku terbukti batu besar itu hilang. Kini hanya ada puing yang dikumpulkan dan dibawa kepinggiran sungai. Anak anak pergi bermain ketempat lain dan ikan ikan hanyut terbawa air.

Sebualan kemudian kulihat sebuah mobil kecil datang ke bantaran sungai. Bongkahan batu yang kini sudah kecil dan tak berguna itu dinaikkan satu demi satu keatas mobil. Lalu aku memberanikan diri bertanya. Untuk apa batu kecil tak berguna ini? Tak akan ada lagi bocah-bocah yang mau bermain diatasnya taka akan ada lagi kekuatannya untuk menahan arus air.

Batu ini memang kecil dan tidak bisa dipakai untuk bermain anak lagi atau tempat berlindung ikan tapi bukankah ia bisa dipakai untuk pembangunan rumah, jalan atau bahkan hiasan ditaman-taman rumah si kaya saat batu kecil tadi diperhalus dan dipercantik.

Hidup tak selamanya harus kuat kekar dan keras, kadang ia butuk suatu yang kecil namun berarti, kadang dia butuh kelembutan dan keindahan keduanya berguna dan keduanya di butuhkan tak ada yang salah asalkan berda pada tempat dimana dia harus berada

4 pemikiran pada “Kisah Batu

  1. Sagala jenis batu ge berharga sob, sagoreng-gorengna batu aya mangpaatna, sanajan ceuk paribasana mah keur pamaledog ucing (heuheu…disensor ameh teu kasar teuing), tetep aya mangpaatna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s