Bromo : Sepetak Tanah Surga Yang Turun Ke Bumi

PanoramaPanorama yang  indah, udara yang dingin, pasir yang terhampar serta masyarakat Tengger yang ramah adalah nilai jual utama dari Gunung Bromo. Secara geografis bromo dibagi kedalam tiga wilayah kabupaten yaitu Malang, Probolinggo dan Lumajang. Bromo sendiri adalah satu dari tiga gunung yang terbentuk dari kaldera Tengger Kuno, dua buah gunung lainnya dalah Gunung Batok di utara dan Gunung Kursi di sisi Selatan. Selain kedua gunung tersebut Bromo pun bersanding mesra dengan Gunung Semeru yang legendaris dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Semua panorama indah ini menjadikan bromo laksana sepetak tanah surga yang diturunkan ke bumi. Maka tak usah heran jika gunung yang memikiki ketinggian 2.392 meter diatas permukaan laut ini menjadi salah satu tujuan utama turis lokal maupun internasional.

Layaknya tempat-tempat lain di Indonesia Bromo pun memiliki legenda yang diceritakan secara turun temurun. Salah satu kisah yang terkenal adalah Joko Seger dan Roro anteng. Dikisahakan dahulu kala di lereng Gunung Pananjakan lahirlah seorang pemuda yang gagah perkasa yang diberi nama Joko Seger yang artinya kuat dan segar dan Seorang wanita Cantik yang saat menghirup nafas pertamanya tidak menangis seperti kebanyakan bayi-bayi lainnya, maka bayi inipun dinamai Roro Anteng. kecantikan Roro Anteng semakin terlihat dari hari kehari, banyak pemuda desa berupaya untuk meminangnya, namun semua permintaan itu ditolak olehnya karena roro Anteng telah jatuh cinta pada Joko Seger. Pada suatu hari dikisahkan seorang pembajak yang terkenal dengan kesaktian dan kekejamannya datang meminag Roro Anteng. Roro Anteng tidak suka pada sipembajak namun diapun tidak bisa menolak keingina sang pembajak begitu saja mengingat kesaktiannya yang luar biasa. Roro Anteng pun kemudian mengajukan satu syarat pada sang pembajak yaitu pinangannya akan diterima jika sipembajak dapat membuat sebuah lautan di sekitar Bromo dalam waktu satu malam saja. Maka dikisahkan sang pembajak lalu mengambil sebuah batok untuk mebuat lautan disekitar Bromo dengan kesaktiannya, Malam semakin larut dan lautan semakin terbentu berkat kesaktian pembajak yang bergitu tinggi. Roro Anteng pun mulai gusar,dia tidak ingin menikah dengan sang pembajak yang begitu kejam, maka diapun memutar otaknya untuk menggagalkan pekerjaan sang pembajak. roro Anteng kemudian berangkat memukul-mukul tumbukan padi untuk membangunkan ayam-ayam agar sang pembajak menganggap waktu satu malam telah habis. Mendengar kokok ayam sang pembajak naik pitam kemudian dia membanting batok yang dipakainya dan jadilah batok itu Gunung Batok yang saat ini berdiri kokoh saat ini berdiri kokoh mendampingi Bromo.

Sepeninggal sang pembajak Roro Anteng menikah dengan Joko Seger. Merekapun hidup damai dan memimpin di wilayah Tengger. Penamaan Tengger diambil dari kata belakang kedua pasangan ini.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun kedua pasangan ini mulai merasakan ada yang kurang dari kehidupan mereka yaitu mereka belum dianugrahkan momongan. Maka kedua pasangan ini pun datang ke Bromo dan meminta gar mereka diberikan momongan. Tiba-tiba tanpa diduga muncullah suara gaib yang mengatakan bahwa mereka akan dkaruniai anak namun suatu hari mereka harus mengorbankan salah satu dari anak mereka. Roro Anteng dan Joko Seger menyanggupi persyaratan dini dan pulanglah mereka kembali. Waktu berlalu dan kedua pasangan ini hidup bahagia dengan ke 25 anaknya. Sampai pada suatu hari datanglah waktu pengorbanan, sebagai seorang orang tua Joko Seger dan Roro Anteng tidak tega untuk mengorbankan anaknya. Pada saat itulah terjadi bencana yang dahsyat mengahncurkan kampung tempat tinggal keluarga bahagia ini. Kejadian ini berlangsung sampai Kesuma putra bungsu mereka merelakan dirinya untuk dikorbankan dan bencanapun berhenti. Sampai saat ini masyarakat Tengger menghormati kisah ini dan selalu datang ke Gunung Bromo pada Bulan Kesada.

ada beberapa rute yang dapat di tempuh untuk mengunjungi Bromo diantaranya adalah melalui Probolinggo. Dari Probolinggo perjalanan menempuh jarak sejauh 28 Kilometer menuju Desa Sukapura. Dari Sukapura perjalanan dilanjutkan sejauh 7  Kilometer menuju Ngadisari dan kemudian masih dilanjutkan sejauh 3 Kilometer menuju Cemoro Lawang. Rute laininya adalah melalui Malang-Purwodadi-Nongkojajar-TosariWonokitri hingga sampai ke Pananjakan yang merupakan tempat tertinggi bibir kawah bagian luar. Rute terakhir memiliki medan yang lebih menantang dibandingkan dengan rute pertama.

Tur Bromo dapat diawali di Pananjakan. Disini pengunjung dapat menikmati matahari terbit dan keindahan Bromo serta Batok dari atas dengan latar belakang Semeru yang terus menerus mengepulkan asap. dari tempat ini dapat dilihat padang pasir yang membentang disekitar bromo. Pengunjung disarankan mengenakan jaket yang cukup tebal untuk menangkis dingin yang menusuk kulit. Perjalalan dilanjutkan menyusuri kaldera untuk penuju padang pasir di sekitar Bromo, Perjalanan ke pananjakan dan ke Bromo bisanya dilakukan dengan jip-jip perkasa yang dapat disewa. Perjalanan menuju Kawah Bromo dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan menunggang kuda. Disini kita dapat menemukan pure masyarakat tengger yang berdiri kokoh tepat dikaki Bromo dan Batok. Sayangnya perjalanan ini akan terganggu oleh debu pasir dan aroma tidak sedap yang ditimbulkan oleh sisa-sisa kotoran kuda. 223 anaka tangga menanti pengunjung sebelum kita dapat mencapai bibir kawah Bromo yang terus menerus mengepulkan asap.

Perjalanan yang jauh dan berat akan dihadiahi ketentraman dan keindahan yang tak ternilai harganya. Jadi tunggu apalagi, segeralah masukkan Bromo kedalam list kunjungan anda pada liburan berikutnya.




7 pemikiran pada “Bromo : Sepetak Tanah Surga Yang Turun Ke Bumi

  1. Mail ,, u know kan my dream ?
    Bisa ke Bromo …
    seumur2 belum pernah ke Bromo
    just wondering. imagining, admiring, from the pictures

    kapan oi kesana lagi ?
    ajak2 sih bung …

  2. Wah, deskripsi Bromo di atas emang ga bohong.. gw pernah ke sana. lagi tour jawa-bali. Tour Ng-gembel(backpacker), pertama ke Bali, dilanjut ke Bromo, Terus ke kota-kota di JawaTimur lanjut ke Jogja sampe Balik lagi ke Bandung tercinta…

    Bromo emang kekayaan Indonesia yang patut di banggain ma kita, gw di sana ngobrol ma turis Spanyol.. Dia rewel tuh pas pertama naik Bison(nama angkutan di Probolinggo), coz penuh sesak g karuan… Eh pas sampe bibir kaldera sebelah kiri penanjakan, gerbang utama rute Probolinggo, dia g bisa ngungkapin lagi pake kata2.. “Amazing, this fucking view..” dan kata2 lainnya yang gw agak g ngerti…hehehehehe

    Parahnya tuh bule, pengen langsung di anter ke kawah langsung, padahal tuh hari dah sore… Emang gebleg tuh bule. Dia lebih hebat lagi, tur Asia. 2 hari sebelum nyampe Bromo dia abis dari Tahiland, kali dari “the beach”..

    Si Bule belum tau aj kali Indonesia masih Punya SEMPU, That The Next Target My Holliday… “The Beach-nya Indonesia” (Katanya sih lebih keren dari yang di punyain Thailand).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s