Malulah Aku Bertitel “Mahasiswa

17 08 2009

Malulah aku bertitel mahasiswa
duduk di bangku kuliah, berkutat dengan pena-pena
berlagak memainkan otak dan kepala
berlaku laksana raja, dengan segala embelem penuh, menggantungi dada

Malulah aku bertitel Mahasiswa
pada saat yang sama, aku lupa pada mereka
mereka yang berbaring dan meronta
tepat disebelah ketiak dan kelopak mata

Malulah aku bertitel mahasiswa
katanya berbekal ilmu
namun hanya bisa mengombal kata kata

Malulah aku bertitel Mahasiswa
berpura pura berfikir dengan derajat ktinggi, membual dengan idealisme dan teori
…..Ya idealisme yang dipelajari dalam kertas kertas tua yang tersusun rapi di atas meja, lupa dibaca
tapi aku lupa pada realita,
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan idealisme dan teori itu!
hanya saja, lupalah aku mengabdi
pada tangan tangan yang berharap, dan menyanyung nyanjung pada pundakkku
mereka berkata
hai mahasiswa, selamatkan kami!!!
walau harus kau kepit di bawah ketiakmu yang telah basah lelah berfikir dikelas sana
tapi kami percaya padamu, kau mahasiswa, berilmu, berakal, berbudi dan berakhlak mulia

Ah…Malulah Aku bertitel maksiswa
berakhlah mulia…..??
mana ada…..aku hanya berkutat dengan angka angka
menyanjung jati diriku
berlagak membela
berteriak dijalan jalan
padahal pada saat yang sama aku telah menipu tangis dan keringat orang tua
aku malu disebut anak mama
yang dari rahimnyalah maka aku ada
aku malu disebut anak papa
yang dari tulangnya, peluhnya dan keringatnya
aku jadi seorang manusia

Malulah aku bertitel Mahasiswa
karna ku tak bisa berbuat apa apa
Malulah aku bertitel mahasiswa
karna tanganku takbisa menjangkau mereka
walau sebenarnya bukan karna tak bisa
tapi entah lupa atau terperdaya
aku memang tak mau mengulurkan tanganngu yang berbercak tinta pena
malulah aku bertitel mahasiswa
budek, pada semua jeritan jeritan rakyat
lupa bahwa tanganku perkasa

ntah apa?
aku hanya bisa melihat dua perkara
coba mengabdi pada dunia
tapi tinggalkan kelas dan lupakan semua
atau berkutat dengan pena
dan lupakan semua kata mengadi pada tangisan yang memekakkan telinga

ohhhhhh…….
sungguh bodohnya aku
aku lupa bahwa goresan goresan pena
dan ilmu yang kuperas dilorong lorong kampus
dapat aku berikan pada rakyat-rakyat yang menjerit
aku lupa pada kodratku
aku lupa pada tugas yang menggelayuti leher, dan tasku
anamah yang merasuk dalam kertas kertas tua itu
inilah jalanku yang sebenarnya

Malulah aku bertitel mahasiswa
melupakan peran yang sebenarnya…..





Saat Bendera Terkibar

9 08 2009

Saat Bendera Terkibar
akupun bertanya,
seberapa tingginyakah dia menyapa
seberapa kuatkah dia mengoyak angkasa

Saat Bendera Terkibar
akupun menanti
kencang teriaknya membahana negri
getar kainnya sangat berani

Saat bendera terkibar
Akupun berharap
dia akan menjawab

Kuamati dalam jutaan teka-teki
namun hanya kibaran tak bersuara yang kudapati
kosong hampa dan sunyi
diatas tiang putih ia berkibar sendiri

Hai bendera terkibar!!!
kemanakah semangatmu itu?
Kemanakah jeritan jeritan dulu?

Hai bendera terkibar!!!
mana jiwa-jiwa pejuang itu
jiwa-jiwa mereka yang tak takut hunusan senapan
jiwa yang berkata MERDEKA!!
jiwa-jiwa garuda

seribu hitungan kutunggu jawabmu
HAI BENDERA TERKIBAR!!!
hilangkah semangat itu?

Ah….seribu hitungan lagi aku menunggu tanpa reaksi
aku pun bertanya kembali
namun kali ini pad diri sendiri
dan aku lupa………jawabnya ada dalam dada ini

Hai bendera terkibar!!!
maafkan kebodohanku
seharusnya memang aku yang kibarkan keperkasaanmu
bukannya menanti dan menunggu berpangku
menuggu jawabmu








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.