Panjat Pinang : Budaya Penuh Kontroversi

27 02 2009

Panjat pinang menjadi salah satu lomba yang tidak pernah absent yang selalu diadakan saat peringatan kemerdekaan RI. Sekelompok pria bahkan wanita saling topang menopang badan untuk memdaki batang pinang yang sebelumnya telah dilumuri oleh pelumas. Pelumas yang hitam dan licin menuntut ekstra tenaga dan kesabaran peserta agar mereka dapat meraih hadiah yang digantung di puncak pinang.

Hadiah biasanya digantungkan pada bambu yang sengaja dibuat melingkar di puncak pinang. Hadiah ini beragam terganntung trend dan modal dari panitia penyelenggara mulai dari baju, peralatan elektronik bahkan sepeda motor sampai mobil.

Beragam kreasi pun bermunculan misalnya pinag tidak lagi dipasang vertikal melainkan horizontal diatas sungai. Semua ini dilakukan semata mata untuk menyusahkan peserta saat mengambil hadiah.

Nilai jual utama lomba ini bagi penonton terletak pada upaya konyol para peserta saat berupaya memanjat pinang yang sangat licin.

Konon awal mulanya panjat pinag berasal dari hiburan penjajah. Dimana mereka memerintakan pribumi untuk memanjat pinag yang diberi oli dengan hadiah makanan seperti beras dan keju.

Sejarah ini membuat panjat pinang menjadi salah satu permainan kontroversial karena dinilai sebagai bentuk perpanjangan dari tawa penjajah mentertawakan pribumi yang kelaparan memperebutkan makanan.

Diluar semua itu sebenarnya ada juga sisi positif dari panjat pinang yaitu mengajarkan kita pada kerja sama, tidak semua orang yang bekerja sama itu harus sampai pada titik puncak, namun orang yang sampai ke puncak tidak boleh melupakan rekan-rekanya yang telah menyokongnya keatas, karena tanpa sokongan mereka mustahil dia bisa sampai keatas.

Selalu ada sisi lain saat melihat sesuatu, tinggal sikap kita menaggapi dan memberikan respon pada setiap sisi tersebut





Pohon Tumbang di Tubagus Ismail, Mobil Tetap Nekat

23 02 2009

Minggu siang (21-2-09) Bandung dihajar hujan. Sepertinya fenomena hujan masih belum berhenti mendatangi kota kembang ini, Sejak siang hingga malam hari hujan lebat hingga rintik rintik getol mengunjungi kota yang pada dasarnya menang sudah dingin. Salah satu pohon di jalan Tubagus Ismail tak kuat lagi berdiri dan tumbang menghantam kabel-kabel listrik di sebrang jalan. Untungnya kabel-kabel ini cukup kuat untuk menahan pohon yang tumbang sehingga pohon ini tersangkut dan menggantung membuat lorong kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil.

Melihat keadaannya yang sangat menghawatirkan sebenarnya warga sekitar telah meamsang tanda dengan merintangi jalan dengan kursi bakso. Namun karena terkesan setengah hati dan tidak adanya penjagaan serta jalan yang masih bisa di tembus maka beberapa motor bahkan mobil terlanjur masuk dan terjebak. Kendaraan roda dua sebenarnya dengan leluasamenerobos pohon tumbang tersebut, termasuk penulis yang merasa tanggung jika harus memutar kembali. Bahkan beberapa mobil kecil ikut-ikutan nekat menerobos pohon tersebut. Padahal kalu dipikir-pikir jika saja sewaktu-waktu kabel-kabel itu putus maka habislah kendaraan yang melintas dibawahnya.

Sayangnya saat penulis hendak mengambil gambar, foto yang penulis bawa kehabisan energi sehingga foto nya tidak bisa ditampilkan.

Terkadang kita memang mempertaruhkan sesuatu yang berharaga demi mendapatkan sesuatu yang lain, bahkan terkadang hanya karena malas saja.

Saat berita ini diturunkan pohon tersebut telah berhasil dievakuasi.





Kisah Batu

21 02 2009

Pernah kulihat batu besar di tengah sungai. Kuat kokoh tak hanyut diterpa bandang. Setiap pagi beberapa anak datang dan mendekat pada batu itu. Kadang mereka naik keatas batu dan meloncat kegirangan menceburkan diri kedalam sungai. Atau sekedar berlari berkeliling mencari teman yang bersembunyi dibalik bongkahannya yang besar. Kulihat beberapa ikan kecil datang sekedar berlindung dari arus lalu datang pula ikan yang lebih besar kesana untuk mencari makanan.

Sepekan dua pekan kemudian datanglah seorang bapak setengah baya dengan palu dan pahat tergenggam ditangannya yang mulai keriput. Dipecahnya batu besar itu menjadi beberapa bongkahan kecil. Aku pun berkata tamat riwayatmu batu besar, dulu air tak bisa mengahanyutkan mu tapi tunggu saja beberapa pekan lagi kau jadi bongkahan batu kecil yang tidak berguna. Tamatlah riwayatmu kau tak lagi berharga. Kau tak akan lagi mendengar suara tawa mereka yang bermain atau melihat perburuan ikan disekitarmu.

Tak lama dugaanku terbukti batu besar itu hilang. Kini hanya ada puing yang dikumpulkan dan dibawa kepinggiran sungai. Anak anak pergi bermain ketempat lain dan ikan ikan hanyut terbawa air.

Sebualan kemudian kulihat sebuah mobil kecil datang ke bantaran sungai. Bongkahan batu yang kini sudah kecil dan tak berguna itu dinaikkan satu demi satu keatas mobil. Lalu aku memberanikan diri bertanya. Untuk apa batu kecil tak berguna ini? Tak akan ada lagi bocah-bocah yang mau bermain diatasnya taka akan ada lagi kekuatannya untuk menahan arus air.

Batu ini memang kecil dan tidak bisa dipakai untuk bermain anak lagi atau tempat berlindung ikan tapi bukankah ia bisa dipakai untuk pembangunan rumah, jalan atau bahkan hiasan ditaman-taman rumah si kaya saat batu kecil tadi diperhalus dan dipercantik.

Hidup tak selamanya harus kuat kekar dan keras, kadang ia butuk suatu yang kecil namun berarti, kadang dia butuh kelembutan dan keindahan keduanya berguna dan keduanya di butuhkan tak ada yang salah asalkan berda pada tempat dimana dia harus berada





Lembaran

21 02 2009

Kenangan hanyalah bayang-bayang
Kenikmatannya adalah fatamorgana
Kehangatannya bukan kehangatan nyata.

Waktu berjalan iringi jejak-jejak kaki
Semakin jauh dan terus akan selamanya menjauh
Tak ada kata kembali tidak akan berulang lagi

hanya ada satu jalan
hadirkan kembali kehangatan
datangkan lagi kepedulian

siapapun kita dan apapun kita sekarang
kita pernah menikmati sebuah kebersamaan
kita pernah jalani hari dalam satu perjuangan
waktu bukanlah sebuah halangan
jarak bukanlah sebuah rintangan

jiwa kita tetap sama badan kita tetap sama
hanya ada sebuah pendewasaan
hanya kini ada pengalaman
ada sebuah pengajaran akan kehidupan berguru pada kenyataan

lembaran lembaran lama biarlah tetap disana
disimpan dan dijaga oleh keindahannya

kini
mari kita buat tulisan baru
sebuah tulisan yang akan lebih indah lebih berwarna
sebuah kebersamaan yang lebih kaya dan jauh lebih bermakana

hanya ada satu jalan
hadirkan kembali kehangatan
datangkan lagi kepedulian

2006





Caringin Tilu : Panorama Bandung dari Ketinggian

19 02 2009
Indah

BAndung Above

Kota Bandung yang berupa cekungan, gedung gedung yang menjulang serta latar belakang pegunungan yang membatasi kota menjadi daya tarik utama Caringin Tilu. Tempat yang terletak diatas ketinggian ini biasa dijadikan sebagai tempat warga Bandung memuaskan mata untuk melihat Bandung sekaligus Lembang secara utuh dari ketinggian.

Pada malam hari keindahan Kota Bandung dari atas semakin menjadi jadi. Lampu lampu terhampar luas laksana permadani emas yang berkilau berpadu cahaya dengan bintang dan bulan menjadi sebuah harmonisa cahaya yang romantis. Udara dingin yang menusuk kulit dapat diobati dengan hangatnya minuman khas sunda, bandrek dan semangkok mie rebus hangat.

Di pagi sampai siang hari angin lembut membelai membuat rambut dan pakaian berkiba-kibar seru. Secangkir coklat hangat atau seteguk lemon tea menjadi pilihan bijak untuk menyapa angin yang datang.

Tempat iindah ini sering digunakan warga Bandung untuk sekedar melepas lelah dari kehidupan padat  yang menyiksa. Atu juga menjadi pilihan tempat rapat dan diskusi seperti yang dilakukan oleh Laboraaatorium Mikroprosesor dan Antar Muka ITTelkom yang mengadakan rapat awal semesternya ditempat ini.





Iseng-Iseng Dengan Ketelitian

18 02 2009

Dalam beberapa keadaaan banyak hal yang sering diacuhkan seolah tidak pernah ada, padahal peranan hal tersebut terkadang menjadi salah satu kunci keberhasilan. Misalnya dalam setiap soal ujian biasanya selalu diikuti dengan pejunjuk pengerjaan soal. ” Kejakan 3 soal dari 5 soala yang tersedia” atau ” Pilih satu jawaban yang anda rasa paling benar”. Atau misalnya budaya budaya seperti tidak merokok di lingkungn tempat ibadah, tidak membunyikan klakson mobil disekitar sekolah, rumah ibadah dan rumah sakit. Peraturan RT yang berbunyi : 1 x 24 jam tamu wajib lapor. Dan berbagai hal hal yang dianggap kecil dan tidak berharga lainnya padahal hal tersebut berguna untuk kita dan orang orang disekitar kita.

Beberapa waktu yang lalu penulis sempat memperhatikan proses pendaftaran disuatu tempat. Pada proses pendaftaran ini para peserta diwajibkan mengisi data diri pada sebuah form dikomputer. Form ini dibuat berbasis exel (salah satu program office keluaran microsoft windows). terdapat dua buah halaman dalam satu file dimana halaman pertama ditujukan untuk para peserta dengan kriteria A dan halaman kedua diperuntukkan untuk para peserta dengan kriteria B. Diatas tabel terdapat tulisan besar berwarna merah dengan latar belakang hitam yang mencolok berbunyi : masukkan data pada sheet sesuai dengan kriteria masing masing…!!!!!” tulisan ini sengaja dibuat tetap terlihat walaupun kolom yang lain bergerak kebawah, artinya walaupun peserta adalah nomor 1000 sekalipun dia kan tetap bisa membaca tulisan tersebut.

Setelah beberapa hari proses pendaftaran banyak ditemukan peserta dengan kriteria A mengisi datanya di halaman yang diperuntukkan kriteria B dan peserta dengan kriteria B mengisi pada halaman yang diperuntukkan bagi kriteria A. Kemudian muncullah niat iseng penulis untuk membuat halaman baru yang persis sama dengan dua halaman sebelumnya hanya saja ditambah dengan tulisan ” INI ADALAH HALAMAN PANITIA” tepat dibawah tulisan ” masukkan data pada sheet sesuai dengan kriteriamasing masing…!!!!”. dan sengaja penulis masukkan beberapa nama panitia dan kriteria masing masing yang tentu saja bukanl;ah kriteria A maupun B. Penulis kemudian sengaja membuka halaman tersebut dan menunggu sampai ada peserta yang datang.

dalam waktu beberapa saat  kemudian datanglah para peserta yang ingin mendaftar dan tanpa basa basi kemudian dia langsung menuliskan namanya pada halaman tersebut (halaman untuk panitia) kemudian pergi. Kontan saja para panitia yang sejak tadi menunggu langsung tertawa terbahak-bahak karena jebakan kami berhasil pada percobaan pertama. kejadian ini berulang disetiap orang yang datang. Ada beberapa orang yang akhirnya sada mereka menulis di tempat yang salah, itupun setelah diberi tahu oleh salah seorang rekan yang sudah tidak kuat lagi dengan kejailan penulis.

Penulis sadar banyak kejadian dalam kehidupan sehari-hari penulis yang juga tidak lepas dari melupakan ketelitian. Misalnya beberpa kali penulis menjatuhkan HP dan dompet. Untungnya dompet san HP itu diamankan (sambil sengaja disembunyikan) oleh teman penulis dan baru dikembalikan saat penulis mulai panik kehilangan barang barang itu.





Gedung Sate : Gedung putihnya Kota Bandung

17 02 2009

Saat mendengar kata Bandung ada beberapa hal yang terlintas dalam benak kita diantaranya adalah beragam factory outlet yang menjajakan beragam jenis pakaian, Udara yang sejuk, masyarakatnya yang ramah dan Gedung Sate. Hal terakhir ini memang menjadi landmark kota yang pernah memiliki julukan kota kembang ini.

Gedung sate saat dijadikan tempat berkantornya orang no. 1 di Jawa Barat sekaligus sebagai pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat. Peletakan batu pertama gedung yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebut sebagai Gouvermenents Bedrijven ini dilakukan oleh Johanna Catheria Coops putri sulung Walikota Bandung saat itu B Coops dan Petronella Roelofsen pada tanggal 27 Juli 1920. Pembangunan Gedung ini sedikitnya memakai 2000 tenaga yang 150 orang diantaranya adalah para pemahat, pengukir batu nisan dan pengukir kayu asal Kanton China yang dibantu oleh tenaga kasar asal Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Cibarengkok dan Kampung Gandok yang sebelumnya telah menggarap Gedong Sirap (kampus ITB saat ini) dan Gedong Pakpak (Balai Kota Bandung saat ini). Pada September 1924 gedung utama termasuk sayap timur (kantor pusat PTT) dan perpustakaan berhasil dirampungkan. Gedung kebanggaan masyarakat bandung ini adalah sebuah karya besar dari arsitek Ir. J. Gerber dan rekan-rekannya yang mendapatkan berbagai masukan dari Maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus.

Gedung sate dibangun dengan memanfaatkan batu-batu berukuran 1m x1 m x2m yang diambil dari kawasan Bandung timur sekitar arcamanik dan Gunung Manglayang Secara teknis Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².

Gedung yang sejak tahun 1980 dipakai sebagai Kantor Gubernur ini awalnya diperuntukkan sebagai gedung departemen pekerjaan umum bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda Setelah Batavia dinilai sudah tidak layak lagi sebagai pusat pemerintahan. Pada tangga 3 desember 1945 terjadi perebutan gedung ini dari tangan Indonesia dan pasukan Gurkha yang menewaskan 7 orang pemuda Indonesia. Tugu peringatan tragedi ini kini dapt dijumpai di halaman depan gedung ini. Pada Tahun 1977 dibagunlah gedung sayap Barat atas Rancangan Ir. Sudibyo dan kini gedung itu diperuntukkan sebagai gedung DPRD Provinsi Jawa Barat.

Selain Sebagai pusat pemerintahan gedung inipun dipakai sebagai tempat wisata. penulis Sendiri manghabiskan masa kecil Di Gedung ini. banyak kengangan indah, perjuangan dan Cinta tertaut di setiap pilar-pilar gedung megah ini

Disadur dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate





Danau Bandung Bukan Karena Tangkuban Parahu

16 02 2009

Oleh T. BACHTIAR


PARA ahli geologi, baik dari Belanda seperti R.W. van Bemmelen dan Th. H.F. Klompe maupun dari Indonesia seperti J.A. Katili, berpendapat bahwa Danau Bandung Purba terbentuk karena letusan dari Gunung Tangkubanparahu. Kemudian pendapatnya itu secara turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi bahkan hingga saat ini.

Dalam karya R.W. van Bemmelen (1936) The Geological Hystory of Bandung Region (translated from Dutch by Robert Smit and Richard Bennett, 1976), demikian juga bukunya yang monumental (1949) The Geology of Indonesia, bagaimana kepincutnya van Bemmelen oleh sasakala Sangkuriang – Dayang Sumbi.

Dalam buku geologi setebal bantal bayi yang berbobot itu, masih menyelipkan sasakala Sangkuriang dalam boksnya. Setelah direkonstruksi, peristiwa geologi Bandung versi van Bemmelen itu ada kesamaan kronologi dengan sakakala tersebut, satu di antaranya bahwa Danau Bandung Purba terbentuk karena peristiwa Gunung Tangkubanparahu yang meletus malam hari dan membendung Citarum purba di utara Padalarang.

Setelah membaca disertasi Mochamad Nugraha Kartadinita yang berjudul “Tephrochronological Study on Eruptive History of Sunda-Tangkuban Perahu Volcanic Complex, West Java, Indonesia” (Kagoshima University, Japan, March, 2005), keyakinan saya tentang pembendungan Danau Bandung Purba oleh Gunung Tangkubanparahu mulai berubah. Walau pun dalam disertasinya tidak dituliskan secara langsung tentang pembentukan Danau Bandung Purba, karena memang di luar kajiannya, saya bisa menyimpulkan, letusan maha dahsyat Gunung Sunda-lah yang telah membendung Citarum purba tersebut.

Sisa kedahsyatan Gunung Sunda

Para anggota TNI AD dan para penggiat kehidupan di alam bebas yang sering berlatih di Situ Lembang, di lembah antara Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Burangrang, pasti sangat akrab dengan pemandangan berupa rangkaian dinding yang memanjang sejak Lawangangin hingga di utara Situ Lembang. Itulah dinding kaldera Gunung Sunda.

Di ujung utara rangkaian dinding itu ada nama Gunung Sunda yang tingginya 1.854 meter dari permukaan laut (dpl.), sebuah kerucut kecil dalam rangkaian panjang kaldera Gunung Sunda. Gunung Sunda yang ini sesungguhnya bukanlah Gunung Sunda yang asli, karena hanya merupakan satu titik dari kaldera Gunung Sunda. Gunung Sunda yang sebenarnya dibangun dengan dasar gunung selebar + 20 km, dan ketinggiannya ditaksir 4.000 m. dpl. Sangat mungkin tinggi sesungguhnya lebih dari taksiran itu. Sebab, pada umumnya sebuah gunung yang meletus hingga membentuk kaldera, kebanyakan menghancurkan dua per tiga tubuh gunungnya.

Kalau saat ini titik tertinggi dari kaldera Gunung Sunda adalah 2.080 meter dpl., ini hanya satu per tiga bagian dari Gunung Sunda. Dua per tiganya lagi adalah bagian gunung yang telah ambruk bersama meledaknya gunung ini. Dengan diketahuinya ketinggian gunung ini maka volumenya akan diperoleh, sehingga dapat mengetahui derajat besaran letusannya.

Pada masa prasejarah, gunung ini meletus dengan jenis letusan plinian, letusan yang banyak mengeluarkan gas gunung api. Letusan tipe ini menyebabkan material gunungapinya disemburkan ke berbagai wilayah yang sangat jauh, hingga Citarum di selatan Rajamandala, dan tersebar di kawasan seluas 200 km2.

Karena begitu banyaknya material dari dalam bumi yang dikeluarkan itulah maka terjadi kekosongan dalam dapur gunung apinya. Inilah salahsatu yang mengakibatkan ambruknya sebagian besar dari tubuh Gunung Sunda hingga membentuk kawah yang sangat luas yang disebut kaldera Gunung Sunda. Dari tengah kaldera ini kemudian lahir Gunung Tangkubanparahu, yang kemudian meletus beberapa kali.

Dalam disertasinya itu Mochamad Nugraha Kartadinita (MNK) menyimpulkan, bahwa ada gunung api yang lebih besar lagi sebelum adanya Gunung Sunda. Jadi, menurutnya Gunung Sunda lahir dari kaldera Pra-Gunung Sunda. Saya mengusulkan nama Gunung Pra-Sunda itu diberi nama Gunung Jayagiri, karena dinding kalderanya melingkar di kawasan Jayagiri. Gunung Jayagiri terbangun antara 560.000 – 500.000 tahun yang lalu.

Menurut MNK setelah Gunung Pra-Sunda (Gunung Jayagiri, penulis) membentuk kaldera, 300.000 tahun kemudian baru lahir Gunung Sunda dari kalderanya. Dalam penelitian MNK, Gunung Sunda tercatat meletus sebanyak 13 kali, dan kaldera Gunung Sunda yang berukuran 6,5 x 7,5 km. itu terbentuk antara 200.000 – 180.000 tahun yang lalu.

Dari kaldera Gunung Sunda inilah lahir Gunung Tangkubanparahu. MNK membagi dua kategori letusan gunung ini, yaitu: Pertama letusan Gunung Tangkubanparahu tua antara 105.000 – 10.000 tahun yang lalu sebanyak 30 kali letusan dan kedua letusan Gunung Tangkubanparahu muda antara 10.000 – 50 tahun yang lalu yang meletus 12 kali.

H. Tsuya menggolongkan derajat kehebatan letusan gunung api menjadi 9 tingkatan, mulai dari derajat satu, yang hanya mengembuskan fumarola hingga derajat 9 yang melontarkan material gunung api lebih dari 100 km3. Bila sebuah gunung api mampu melontarkan material dari tubuhnya antara 10 – 100 km3 dapat digolongkan mempunyai derajat kehebatan delapan. Gunung Sunda termasuk kategori ini karena pada fase pertama dalam pembentukan kalderanya telah melontarkan material vulkanik sebanyak 66 km3. Jumlah ini sebenarnya hanya 60 persennya saja, sebab tidak menghitung yang menghilang diterbangkan angin ke berbagai penjuru dunia. Bila yang 40 persen lagi dihitung, maka jumlahnya akan mencapai 110 km3.

Sebagai bandingan, pada tahun 1963 Gunung Krakatau meletus dengan mengembuskan volume sebanyak 0,00030 km3 dan tetusan tahun 1973 volumenya sebanyak 0,012 km3. Sedangkan Letusan dahsyat Gunung Krakatau 1883 melontarkan material gunungapi sebanyak 18 km3 atau setara dengan 21.547,6 bom atom. Sedangkan letusan Gunung Tambora tahun 1815 menghembuskan 150 km3, dengan derajat kehebatan IX, atau setara dengan 171.428,6 bom atom (K. Kusumadinata, 1979).

Letusan dahsyat Gunung Sunda sedikitnya terbagi menjadi dua episode letusan utama. Letusan episode pertama mengeluarkan lava, yang terjadi 1,1 juta tahun yang lalu, dan episode kedua, letusan yang telah mengambrukkan badan gunung ini hingga membentuk kaldera, diperkirakan terjadi antara 205.000 – 180.000 tahun yang lalu.

Pada letusan dahsyat Gunung Sunda episode kedua, piroklastika-nya dengan seketika mengubur apa saja yang ditimpanya. Hutan belantara dengan kayunya yang besar terkubur bersamaan dengan makhluk hidup yang ada di dalamnya, tak terkecuali hewan vertebrata besar seperti badak, rusa, kijang, dan hippopotamus (kuda nil) yang sedang berada di lembah atau rawa-rawa di selatan Rajamandala, yang jaraknya + 35 km. dari pusat letusan. Arang kayu seukuran drum dapat ditemukan di penggalian pasir Ciseupan, Cibeber, yang kini sudah ditutup. Di sana terdapat pohon-pohon yang melintang serah datangnya awan panas yang telah mengarang.

Dari fosil badak dan hippopotamus yang ditemukan di tebing Citarum sebelah barat daya Bandung, di Baribis Subang, dan di Tambaksari Ciamis, menunjukkan bahwa binatang raksasa ini pernah hidup di Tatar Sunda.

Perjalanan binatang tersebut karena di kawasan lintang tinggi saat itu membeku, suhunya melebihi kemampuan binatang beserta habitatnya untuk bertahan hidup. Siklus hidrologi terputus, bukan hanya air yang ada di laut yang membeku, tapi semua air yang masih ada di darat semuanya membeku, sehingga volume air laut semakin berkurang. Ketika rumput dan sumber makanan lainnya tertimbun es dan mati, maka nalurinya menuntun hewan-hewan itu bergerak ke kawasan yang suhunya lebih hangat dan menyimpan sumber makanan yang masih berlimpah. Salah satu tujuannya adalah kawasan tropik, yang suhunya saat itu + 70 0C lebih rendah dari suhu saat ini.

Ketika terjadi pembekuan di lintang tinggi 3,5 juta tahun yang lalu itulah air laut di kawasan tropika menyusut tajam hingga puluhan meter dalamnya, yang mengeringkan laut di paparan antara benua Asia, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, dan Pulau Kalimantan. Paparan Sunda yang kering inilah yang dijadikan jalan migrasi bagi hewan vertebrata seperti stegodon, badak, rusa, kijang, kerbau, kuda nil, gajah purba, dan yang lainnya, kemudian diikuti oleh migrasi homoerektus hingga manusia prasejarah ke Tatar Sunda.

Binatang vertebrata yang bermigrasi itu ada yang terus mendaki hingga ketinggian 700 m. dpl. dan sampai di Cekungan Bandung. Dari data yang tersingkap di tebing Citarum, ditemukan fosil binatang vertebrata dalam timbunan material lepas dari letusan Gunung Sunda. Fakta ini dapat memberikan petunjuk, bahwa hewan-hewan besar itu masih hidup hingga terjadi letusan mahadahsyat Gunung Sunda.

Dari singkapan tebing di Ci tarum, Umbgrove dan Stehn (1929) menulis tentang penemuan fosil vertebrata. Fosil vertebrata itu oleh R.W. van Bemmelen (1936) direkonstruksi secara geologis dengan kejadian bumi Bandung, dihubungkan dengan letusan mahadahsyat Gunung Sunda. Selain van Bemmelen, pada tahun 1956 Th. H.F. Klompe pun menguraikan keadaan geologi Bandung dengan letusan mahadahsyat Gunung Sunda. R.W. van Bemmelen dan Th. H.F. Klompe menyebutkan adanya hippopotamus yang mati lemas terkubur piroklastika letusan Gunung Sunda.

Perlu ada penelitian-penelitian lanjutan, seperti penelitian serbuksari dan iklim purba, sehingga dapat ditafsirkan bagaimana pengaruh letusan ini pada kehidupan hutan dan segala isinya, serta adakah pengaruhnya pada perubahan iklim secara lebih luas dan kehancuran ekosistem termasuk binatangnya?

Terbendung material letusan G. Sunda

Sebagai bandingan, bila Gunung Tangkubanparahu sebagai anak Gunung Sunda, atau cucu Gunung Jayagiri meletus nanti, daerah bahayanya hanya seluas 74 km2, serta daerah waspadanya seluas 149,8 km2. Bila letusannya besar, laharnya akan membanjir hingga daerah waspada mengikuti lembah, paling jauh mengikuti Cikapundung hingga jarak + 20 km dari pusat letusan. Hal ini dapat menjadi pembanding, betapa dahsyatnya letusan Gunung Sunda pada periode prasejarah, mampu mengubur apa saja yang ditimpanya dalam radius yang sangat luas dan seketika.

MNK membagi letusan Gunung Sunda itu menjadi tiga fase, pertama fase ignimbrite yang terjadi 105.000 tahun yang lalu, yang menurut penelitian Rudy Dalimin Hadisantono (1988), volume yang dilontarkannya sebanyak 66 km3 mengarah ke barat laut, selatan, dan timur laut pusat letusan, menutupi kawasan seluas 200 km2 dengan rata-rata ketebalan 40 meter, seperti dapat dilihat di Ciseupan, di Campaka, Cisarua, dll. Kedua fase freatomagmatik yang melontarkan volume sebanyak 1,71 km3, dan ketiga adalah fase plinian dengan melontarkan material gunung api sebanyak 1,96 km3.

Pada fase ketiga ini material vulkaniknya mendapat tekanan yang sangat tinggi, sehingga mampu dilontarkan ke angkasa membentuk tiang letusan setinggi 20 km dengan payungnya sepanjang 17,5 km dan lebarnya 7 km. Belum terhitung debu yang melayang-layang mengelilingi angkasa dan jatuh dibelahan bumi yang sangat jauh, yang biasanya volumenya mencapai 40 persen dari total material vulkanik yang dilontarkan.

Dari data tersebut di atas, bahwa letusan Gunung Sunda fase pertama yang terjadi 105.000 tahun yang lalu yang melontarkan material vulkanik sebanyak 66 km3 dan menutupi kawasan seluas 200 km2 dengan rata-rata ketebalan 40 meter, dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa tidak mungkin material vulkanik sebanyak itu tidak menutup aliran Citarum Purba! Saya berkeyakinan, material Gunung Sundalah yang telah membendung Citarum Purba di utara Padalarang, yang sisa sungainya kini disebut Cimeta.

Jadi, jauh sebelum Gunung Tangkubanparahu lahir, Danau Bandung Purba sudah lama terbentuk! Mudah-mudahan para ahli geologi, ahli fosil, ahli palinologi, ahli iklim purba, ahli geografi dapat mengadakan penelitian lanjutan untuk menyingkap sejarah bumi Bandung lebih akurat lagi!

Sesuai kronologi sakakala sang kuriang!

Bila diadakan reinterpretasi sakakala Sangkuriang – Dayang Sumbi, sesungguhnya sakakala itu sudah memberikan tanda-tanda itu. Mari kita lihat kronologi sasakala, khusus pada fase pembendungan dan kejadian Gunung Tangkubanparahu.

Pertama Sangkuriang menebang pohon lametang raksasa dan roboh ke barat. Tunggulnya membentuk Bukit Tunggul, dan rangrangan, sisa dahan, ranting dan daunnya membentuk Gunung Burangrang. Ditafsirkan kedua kerucut ini hanyalah gunung api parasiter dari gunung api yang lebih besar, yaitu Gunung Sunda. Batang pohon itu menjadi bakalan perahu yang akan dibuatnya.

Setelah pohon ditebang (setelah gunung api parasiter terbentuk), Sangkuriang pergi untuk membendung sungai, agar tergenang menjadi danau yang kelak akan dijadikan tempatnya berlayar memadu kasih dengan Dayang Sumbi, sesuai dengan kesepakatan awal antara keduanya. Dapat ditafsirkan, upaya pembendungan sungai dilaksanakan jauh sebelum Gunung Tangkubanparahu terbentuk.

Setelah sungai dibendung, Sangkuriang melanjutkan mengerjakan batang kayu itu menjadi perahu. Danau sudah terbendung, airnya mulai ngamprah, mulai tergenang, dan betapa girangnya Sangkuriang. Fantasinya berlayar bersama Dayang Sumbi memberikan semangat untuk terus membuat perahu.

Namun sebaliknya bagi Dayang Sumbi. Dalam hati Dayang Sumbi berkata, “Wah, kalau begini akan celaka jadinya!” Dayang Sumbi mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, lalu dibungkus dengan kain putih hasilnya menenun. Daun yang dibungkus itu dipotong-potong halus, lalu ditaburkan ke arah timur sambil memanjatkan permohonan:

Jampi saya, si urung gunung,
Kayu Lametang urung dibuat perahu,
Ci Punagara urung dibendung,
Bukan kehendak Sang Kuriang,
Tapi kehendak Dayang Sumbi,
Jadi, TIDAK!
Jadi, TIDAK!
Sang Kuriang TIDAK JADI kepada saya!.

Karena Yang Mahakuasa memayungi makhluknya yang selalu bersih hatinya, seketika itu di ufuk timur fajar menyingsing, cahaya membersit pertanda matahari akan segera terbit. Betapa leganya perasaan Dayang Sumbi. Namun tidak bagi Sangkuriang yang sedang bekerja habis-habisan menyelesaikan perahunya. Begitu melihat cahaya matahari membersit, Sangkuriang marah dan kesal tiada bandingannya.

Dengan kemarahan dan rasa kesal yang memuncak, Sang kuriang menendang perahu yang hampir rampung dibuatnya itu dengan rasa frusrtasi yang mendalam. Maka jadilah Gunung Tangkubanparahu.

Laksana kilat, Dayang Sumbi berlari ke arah timur. Secepat kilat itu pula Sangkuriang mengejar Dayang Sumbi yang terus berlari menghindari kemarahan dan harapan Sangkuriang. Di sebuah bukit kecil, hampir saja Dayang Sumbi tertangkap, namun Yang Maha Kuasa masih melindunginya. Nyai Dayang Sumbi menghilang entah ke mana. Di bukit tempat menghilangnya Nyai Dayang Sumbi tumbuh berbagai bunga yang mewangi, kini disebut Gunung Puteri. Dapat ditafsirkan bahwa Gunung Tangkubanparahu lahir jauh sesudah danau itu terbentuk!

Sasakala Sangkuriang yang sudah sangat tua umurnya, sudah dikenal pada abad ke-15. Hal ini dapat dibaca dalam catatan Bujangga Manik, tohaan, satria pengelana dari Pajajaran saat melintas di pinggiran Cekungan Bandung bagian selatan. Bujangga Manik menulis, “Leumpang aing ka baratkeun, datang ka Bukit Patenggeng, Sasakala Sangkuriang, masa dek nyitu Citarum, burung tembey kasiangan” (lihat Teuw dan J. Noorduyn).

Cagar bumi

Sisa-sisa kedahsyatan letusan Gunung Sunda merupakan keragaman bumi/geodiversity yang baik bila dijadikan laboratorium lapangan untuk pembelajaran bagi para siswa dan mahasiswa. Di sana mereka bisa belajar tentang pengangkatan daratan, pelipatan kulit bumi, kegunungapian, seperti tentang: lava, bahan lepas, kekuataan letusan, sumbermata air panas, patahan/sesar, gempabumi. Di sana juga bisa belajar paleontologi, geohidrologi, pola aliran sungai, kesuburan lahan, pertanian, peternakan, dan pemanfaatan bentang alam gunung api sejak zaman megalitikum hingga kini, baik untuk kepentingan religi ataupun untuk mengais rezeki dan rekreasi.

Apakah keragaman bumi Bandung ini akan dimanfaatkan dengan baik, ataukah akan dihancurkan karena kelaparkuasaan dan kemegaserakahan?***

Penulis, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 4 Nopember 2006.
source :
http://dieny-yusuf.com/

dikutip dari : http://www.ubb.ac.id





Batik : Warisan Luhur Budaya Bangsa

16 02 2009

Kain Batik adalah salah satu wujud seni budaya bangsa indonesia yang ininterpretasikan kedalam goresan goresan mempesona di atas selembar kain. Batik sendiri berasal dari Bahasa Jawa yaitu amba yang berarti menulis dan titik. Membatik sendiri adalah salah satu kegiatan yan pada awalnya adalah kegiatan para wanita dan menjadi salah satu kegiatan ekslusif kaum wanita sampai ditemuklannya teknik batik cap yang memungkinkan para pria ikut campur dalam urusan membatik. Walaupun demikian ada beberapa fenomena menarik misalnya pada batik pesisir dimana ditemukan adanya corak-corak maskulin, dalam kasus ini membatik adalah salah satu pekerjaan kaum lelaki.

teknik mebatik diperkirakan telah ditemukan ribuan tahun silam. Teknik ini diduga berasal dari Sumeria yang dibawa oleh para pedagang India ke tanah Jawa. Di Jawa inilah teknik membatik kemudian berkembang pesat dan menjdi salah satu teknik yang menghasilkan sebuah karya seni terbaik sampai saat ini. Dewasa ini batik dapat ditemukan diberbagai tempat tidak hanya di jawa namun juga di beberapa daerah di Indonesia bahkan sampai ke Malaysia, Tahiland, Srilangka India dan Iran.

Awal mulanya batik adalah sebuah tradisi yang diwariskan secara turun menurun, akibatnya beberapa motif batik dapat dibedakan dari keluarga mana yang membuat batik tersebut. Batikpun menjadi pakaian kehormatan dikalangan ningrat. Sampai saat ini ada beberapa motif yang hanya dipakai di kalangan keraton seperti Keraton Yogyakarta dan Surakarta

Proses pembuatan batik dimulai dengan memberikan motif batik diatas kain. Proses ini menggunakan alat khas yang disebut canting. Pemberian motif dilakukan dengan mentutupi kain dengan cairan lilin. Kain yang telah diberi lilin kemudian dicelup kedalam pewarna, biasanya dimulai dengan pemberian warna warna muda, kemudian baru diteruskan dengan warna-warna yang lebih gelap. Setelah beberapakali pencelupan batik kemudian dicelupkan kedalam larutan kimia khusus untuk menghilangkan lapisan lilin.

Batik Pertama kali dipromosikan kedunia oleh Presiden Soeharto saat beliau menghadiri konferensi PBB dengan menggunakan batik. Saat ini batik menjadi warisan budaya Indonesia. Untuk itu beberapa instansi mencanagkan program penggalakan batik. Salah satunya Institut Teknologi Telkom yang menghimbau seluruh civitas akademikanya mengenakan batik pada hari Jumat dan Sabtu.

Maju terus budaya Indonesia, Buktikan Pada udnia bahwa kita bisa !

disadur dari  :http://id.wikipedia.org/wiki/Batik





Registrasi : Langkah Awal Sebuah Perjuangan

2 02 2009

penuhSalah satu proses yang harus dilakukan diawal semester oleh seorang mahasiswa adalah registrasi. Ada beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya adalah pembayaran uang  kuliah,  input mata kuliah, perwalian dan cetak KSM. Proses yang cukup menyita waktu dan tenaga ini rutin dilakukan oleh seorang mahasiswa setiap awal semester. Hal terpenting dari proses ini adalah penentuan matakuliah yang akan dijalani oleh mahasiswa tersebut.  Ada beberapa hal yang biasanya menjadi pertimbangan seorang mahasiswa saat proses registrasi diantaranya adalah dosen yang mengajar. Sebagai seorang pengajar dosen mempunyai peranan penting saat proses belajar mengajar. Dari semua dosen pasti ada dosen-dosen yang menjadi paforit bagi mahasiswa baik  karena dosen tersebut baik cara mengajarnya atau karena baik dalam memberi nilai pada mahasiswanya. Pertimbangan lainnya adalah jadwal kuliah. Mahasiswa dapat mengatur jadwal kuliahnya sedemikian sehingga ada waktu kosong dalam satu hari yang dapat dijadikan sebagai hari libur, atau mahasiswa justeriu meratakan jadwal kuliahnya sehingga tidak ada satupun hari yang padat dengan kuliah.

Sayangnya proses registrasi ini tidak selamanya berjalan menyenagkan. Banyaknya mahasiswa dan terbatasnya pelayanan membuat proses ini membutuhkan waktu yang lama dan cukup melelahkan.

Pada akhirnya registrasi adalah suatu proses yang  harus dilakukan oleh seorang mahasiwa untuk merencanakan study-nya selama satu semester.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.