Panorama : Belajar Kepedulian Dari Desa Tertinggal

30 01 2009

plang nama

SD-SMP Satu Atap Panorama berdiri megah diantara rumah rumah penduduk yang mayoritas terbuat dari bilik bambu. SD-SMP ini berdiri di sebidang tanah di desa Karang wangi Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur. Saat mendengar “Cianjur”  kita akan terbayang pada sebuah kota yang menjadi salah satu lumbung padi Propinsi Jawa Barat yang terletak di sebelah barat Kabupaten Bandung Barat, Namun jangan salah lokasi SD-SMP yang sedang kita bicarakan ini justru berada di bibir pantai selatan pulau jawa. Tempat ini memang berada tak jauh dari perbatasan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut dan berada tak jauh dari muara Sungai Cilaki yang kesemuanya itu terletak jauh diselatan kabupaten Bandung.

Sepintas tak ada yang istimewa dari SD-SMP dan beberapa rumah bilik yang berdiri mengitarinya selain keadaanya yang sangat gersang di musim kemarau atu sangat becek di musim penghujan. Namun ada satu pelajaran penting yang dapat diambil dari desa yang belum dapat menikmati aliran listrik ini. Ada satu budaya yang sudah sejak lama terlupakan oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Maksar dan sebagainya. Pelajaran berharga ini adalah rasa peduli antara warga. Bapak Aang salah satu guru di sekolah ini menuturkan “Kalau di desa ini biarpun kehidupan susah tapi masyarakatnya peduli, disini ga bakalan kejadian ada satu orang yang kelaparan kecuali kalau satu desa yang kelaparan, kalu kita lapar dan ga punya apa-apa tinggal ketok aja rumah sebelah Insyaallah dapat makanan” ujar beliau pada penulis saat penulis mengunjungi sekolahnya.

dilain kesempatan satu rombongan dari masjid Salman ITB yang mengadakan pelatihan relawan di bawah bendera Korps Relawan Salman (KORSA) mencoba mengundang warga sekitar SD-SMP untuk bersilaturahmi dan juga mengundang anak anak desa untuk diajak bermain bersama sebagai salah satu bentuk aksi sosial yang menjadi materi dalam pelatihan tersebut. Tanpa terduga di waktu yang sepakati hadir sekitar 300 anak anak dan sekitar 70 warga desa yang mendatangi acara yang disiapkan oleh rombongan. Acara dibagi menjadi dua bagian yaitu games yang diadakan di persawahan di sekitar kampung. Acara ini diikuti oleh anak-anak desa dengan sangat antusias sampai sampai membuat peserta pelatihan relawan agak sedikit kewalahan menghadapi semangat mereka yang begitu besar. namun acara games dapat diakhiri dengan persaan tak terungkapkan baik dikalangan anak-anak maupun peserta pelatiahan yang ditandai dengan senyuman yang merekah diwajah-wajah mereka. Ditempat lain yaitu di dalam kelas warga desa menceritakan keadaan mereka. Kedua acara ini berjalan dengan sukses dan memberikan kesan tersendiri di kedua belah pihak. Kejadian seperti ini mungkin akan susah kita jumpai di kota-kota besar dimana warganya sibuk dengan pekerjaan masing masing tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya.

Cerita tentang kepedulian belum berakhir sampai disitu. Pada kesempatan lainnya satu rombongan dari Karisma Salman ITB  yang melakukan survei untuk sebuah acara out bound mengunjungi desa ini. Saat tiba di desa mereka disambut dengan sangat hangat oleh beberapa warga yang menjumpai mereka. Hal yang sangat menyentuh terjadi sepulangnya rombongan melihat lihat desa dengan berjalan kaki, mobil robongan yang diparkir dihalaman SD-SMP sedang dicuci oleh beberapa pemuda desa padahal mobil itu dalam keadaan kotor luar bisa mengingat medan yang harus ditempuh sebelum mencapai desa ini tidaklah mudah. rasa terharu dan serbasalah kontan saja menyeruak diantara para rombongan apa lagi mereka tidak dapat meninggalkan tanda mata karena keuagan yang sangat terbatas.

Sambutan hangat juga diberikan pada rombongan dari Laboratorium Mikroprosesor dan Antar Muka Institut Teknologi Telkom yang berkunjung ke SD-SMP ini. mereka mendapatkan tempat beristirahat untuk beberapa saat setelah melakukan pejalanan melelahkan selama satu malam dari kampus mereka di Dayeuh Kolot Bandung. merekapun dijamu dengan berbagai camilan tradisional khas Jawa Barat.

Tempat ini dapat diakses dari kawasan Pangalengan dengan menyusuri kebun teh di sekitar Situ Cileunca menuju selatan melewati Desa Cisewu ke arah Ranca Buaya untuk kemudian perjalanan dilanjutkan menyusuri pantai kearah barat. Jalan yang cukup sempit ditambah belokan belokan curam dan jalan licin di musim hujan serta longsor di sepanjang perjalanan menjadi warna tersendiri dari rute ini. Bagi mereka yang menginginkan jalan yang lebih baik dapat mencoba mengakses tempat ini dari kota garut menuju kawasan Pameungpeuk, Santolo untuk kemudian menyusuri pantai menuju Ranca Buaya dan melanjutkan perjalanan kearah barat sampai di muara Sungai Cilaki.

Selamat merasakan nikmatnya kepedulian





3DIVA : Perjalanan Pembelajaran

29 01 2009

Karisma ITB (Keluarga remaja Islam Masjid Salman ITB) Jumat (23/02/07) memulai perjalanan 3 Days Pembina in Vacation (3DIVA) selama tiga hari ke beberapa tempat di Jakarta dan banten.Acara yang bertujuan untuk study banding para pembina Karisma dalam rangka persiapan menghadapi semester baru ini pertama kali mengunjungi Ilmu Berguna (ILNA) di bogor. disana para peserta disambut dengan hangat oleh para pendiri ILNA yang menyuguhkan beragam informasi tentang kegiatan kegiatan ILNA dan beberapa produk yang telah mereka terbitkan seperti buku super mentoring.

Pemberhentian rombongan berikutnya adalah kantor Eramuslim. Disini rombongan banyak belajar tentang peranan media dalam upaya dakwah. Disini dipaparkan bahwa media mengambil peranan yang penting dalam upaya dakwah sebagai penyampai informasi pada objek dakwah.Seusai foto bersama rombongan melanjutkan perjalanan mengunjungi para senior mereka di salman tepatnya di sekretariat KALAM Salman ITB di daerah utan kayu. Di tempat ini terjadi transfer semangat anatara kakak dan adik. Suasana kekeluargaan sangat terasa di tempat ini.

Pemberhentian selanjutnya adalah sekretariat RISKA di komplek Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK). Berbeda dengan tempat lain di lokasi ini diskusi ditunda sampai pagi hari keesokan harinya. rombongan beristirahat di perpustakaan (MASK) bagi akhwat (wanita -red.) dan di sekretariat RISKA bagi ikhwan (laki-laki -red.). Seusai istirahat panjang para pembina Karisma dan RISKA saling berbagi pengalaman dan trik dalam upaya dakwah dikalangan reamaja. Diskusi terjadi sangat seru karena Karisma dan RISKA mempunyai orientasi dakwah yang sama yaitu remaja. ada beberapa pon penting yang dapat ditempat ini salah satunya adalah dokumentasi kegiatan dan administrasi serta managemen klub-klub minat dan bakat.

Lembaga terakhir yang dikunjungi dalam acara 3DIVA adalah YISC Al-Azhar yang berada satu komplek dengan Masjid Agung AL-Azhar. Ditempat ini rombongan kembali bertukar pikiran tentang dakwah remaja. Tanpa terduga rombongan dikejutkan dengan kedatangan salah satu adik alumni 4DIA (4 Days Islamic Adventure) yang berdomisili di Jakarta dan juga terdaftar sebagai salah satu anggota YISC.

Seusai perjalanan panjang yang penuh manfaat rombongan bertolak ke pantai anyer. disini rombongan melakukan evaluasi dari kegiatan yang panjang. keesokan harinya diadakan olahraga ceria yang dipimpin langsung oleh ketu LP2K Karisma, kang Faris. beberapa permainan diikuti dengan semangat oleh seluruh pembina Karisma.

Perjalanan 3DIVA ditutup dengan perjalanan pulang kembali ke Bandung. Para peserta rombongan tampak beristirahat setelah mendapatkan manfaat dari perjalanan panjang ini.





Analogi Pantat Ayam

29 01 2009

Siapa yang tidak tahu pantat ayam?
Yah itu adalah tempat yang buruk tempat keluarnya kotoran ayam yang bau dan kotor. Tapi ternyata pantat ayam ini bukan sekedar pantat. Disana jugalah ayam mengeluarkan telurnya. yah telur adalah sesuatu yang sangat berharga bagi ayam, karena itu adalah bakal calon penerusnya dikemudian hari.
Mengapa ini bisa terjadi? Sebenarnya dapt dijawab oleh ilmu biologi (tanyakan saja sama anak bio yah).

Lalu apa pentingnya pembahasan pantat diatas ? Coba kita renungkan telur itu adalah hal yang sangat berharga dan mempunyai nilai jual sebagai sumber makanan manusia. Padahal semua tau bahwa telur itu keluar dari pantat yang kotor.

Setiap hal yang baik dari manapun dia berasal maka dia tetaplah baik.
Lalu kenapa kalau kita mau memakan telur tetapi kita tidak mengindahkan pesan pesan dari orang yang kita anggap buruk.





Pertengahan

29 01 2009

Ingin rasanya jiwa ini lepas dari kungkungan waktu yang memakan badanku yang kian renta ini.
Semakin hari beban itu semakin besar saja, satu selesai satu lagi datang tak ada habisnya.

Perubahan adalah ancaman yang datang dihari-hariku. Setelah semua penyesuaian mati-matian, setelah semua kecocokan dan kesenangan, perubahan datang hancurkan dan membakar semuanya.

Hidup harus terus ditata ulang. Perjuangan terus dilakukan tanpa ada pemberhentian ditengah. Oh ragaku serasa besi terus ditempa dibakar dihancurkan dan ditempa lagi oh.

Tak adil rasanya saat orang lain bisa tegakkan layar dalam topan sementara aku entah sudah hanyut terbawa badai. Entah memang aku manusia lemah atau orang yang menyerah atau apalah.

Seribu keluhan telah terucap dari bibir yang sudah kering dan pecah. Sejuta raungan kuteriakkan dimalam kesendirian dengan segudang beban pikiran tuk jalani esok. Namun aku tetap hanyut dan tenggelam tanpa tahu apakah akan ada yang menyelamatkan.

Kadang aku berfikir apakah aku bisa jadi air mengalir, arungi waktu dengan ketehuhan dan kesegaran. Tanah subur disisi, gemericik suara mengiringi jalan selama hayat. Tapi bukankah ada jeram yang merajam disepanjang perjalanan. Ada jurang yang dalam dengan lembah hitam kelam di hadapan.

Lain waktu kuratapi tanah yang bersahaja. Awal mula sebuah kehidupan darinya. Dengan kerendahan dan kebijakan tenang dan tentram. Tapi bukankah ada gempa yang menghancurkan disela tidur panjang.

Selalu bukankah tapi bukankah tapi dan dan itu saja.

Kadang aku puas dengan aku yang sekarang terangakat dan terbuai dalam gelimang kebanggan dan luluran madu manis tapi waktu juga yang hapus kepuasan itu. Lenyap dan aku harus kembali ketempat buangan yang lebih rendah dari pembuangan sebelumnya

lalu untuk apa pejuangan ini apakah hanya untuk membalikkan roda yang tak ada atas tak ada bawah.

Oh aku kenapa aku mengapa aku.

Aku mersa diriku benar tanpa cacat dan mampu atasi titian yang kulewati dengan luka dan sakit karena jatuh tak berkesudahan. Jadi apakah aku mampu apakah aku ini sudah benar oh egoku, ego tak berkesuadahan.

Diriku merasa kuat padahal akulah orang lemah yang tidak berdaya pada gertakan saja.
Dalam renunganku kadang aku merasa sebagai seorang yang kalah dan aku harus menyerah.

Aku pantas berada dalam sebuah pembuangan. Siapa yang peduli akan ketidak beradaanku, ku yakin tiada tak akan ada tangis tak ada sesal dari mereka karena memang aku adalah yang tersisih.

Tapi jika harus begitu apakah perjuanganku ini tak ada nilainya mengapa tak kubuang saja diriku sejak dulu, tak usah ada raungan dan ratapan dalam pembuangan.

Ada masa aku tak ingin ada dan aku bertanya mengapa aku ada bukankah tanpaku dunia tak rugi.

apakah harus kuakhiri.

Tapi ada apa disana ada apa setelah akhir aku yakin ada hal yang membuat aku ingin mengakhirinya juga tapi apakah akhir bisa ada setelah akhir oh apakah.

Kuhakimi diri dengan segala hukuman bertoleransi yang kubuat dan kurancang sendiri. Ku hakimi aku dengan segala kemewahan mimpi yang membakar pikiran dan persaanku. Tapi bukan kah manusia butuh mimpi atau aku tak boleh raskan mimpi.

Apakah disetelah buntu ada pintu? Apakah halangan bisa berlalu bagai debu yang disapu angin semilir. Atau aku harus terus memaksakan kebuntuan tanpa penyelesaiaan atau memang tak pernah ada penyelesaiaan.

Aku sudah muak dengan semua beban ini.

Perubahan, waktu, tanggung jawab, akibat semua datang dan hancurkan tanpa peduli.

Apakah ini akhirku?

Apakah aku jadi manusia dengan jiwa berda di pusara.

Haruskah ku hidup dengan tali mengikat leherku selamanya.

Haruskah ku…….
haruskah.

Kini kuarasa aku berada pada pertengahan.

Ku tak tahu apa akhir dariku atau mungkin memang tak akan ada.

Tapi aku tak mau kembali atau tenggelam disini karena sudah banyak jeritan ratapan dan  raungan dalam hidupku yang harus ada hasilnya harus ada tak boleh tenggelam disini.

(September 2005)








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.